Jumat, 24 Mei 2013

Buah Manis Sosialisasi OGB


Jika mendengar istilah Obat Generik Berlogo (OGB), apa yang terlintas di pikiran anda? Obat murah kah? Obat obat yang diperuntukkan untuk segolongan masyarakat tertentu kah? Atau obat berkualitas? Pertama mendengarnya, saya menganggap obat generik adalah obat murah dan kurang berkualitas. Di tambah dengan adanya logo yang menguatkan bahwa obat generik memang khusus, meski belum mengetahui dikhususkan dalam hal apa, tetapi melihat harganya, pemikiran awam saya (dan mungkin juga sebagian besar orang Indonesia) cenderung merujuk bahwa obat generik berlogo dikhususkan untuk masyarakat menengah kebawah. Sedangkan obat bermerek (branded) yang notabene berkali lipat jauh lebih mahal, lebih memegang mutu, tentu karena obat tersebut sudah diiklankan di televisi dengan icon artis-artis ternama. Ya, iklan memang kerapkali menjadi patokan bermutu atau tidaknya suatu produk. Spekulasi keliru.
Beberapa kali saya pernah melihat spanduk anjuran pemakaian OGB di jalan-jalan, atau iklan di televisi (meskipun sekarang sudah tidak pernah lagi), tetapi entah mengapa ketika sakit dan berobat, saya menyerahkan sepenuhnya pemilihan obat kepada dokter. Menurut saya, dokter tentu lebih mengetahui obat mana yang lebih cepat menyembuhkan, tanpa peduli obat generik atau tidak. Ini nih yang buat rendahnya penggunaan OGB di negara kita.
Faktanya kemudian, pemikiran saya salah besar! Sosialisasi yang diadakan oleh salah satu perusahaan farmasi nasional terbesar di Indonesia mematahkan anggapan tersebut. Obat generik berlogo mempunyai kualitas dan khasiat yang sama dengan obat bermerek sejenis. Ya, SAMA. Bagaimana bisa? Obat generik tentu tidak akan pernah beredar luas jika cara pembuatannya tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, yaitu CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), bersertifikat internasional, serta diawasi langsung oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Selain itu, OGB juga telah lulus serangkaian tes, mulai dari bahan baku sampai produk jadi, baik dari segi mutu sampai keamanan. Mantap gak tuh!
Melalui print-out yang dibagikan saat sosialisasi juga, saya tahu bahwa obat generik merupakan program pemerintah yang digalakkan sejak 14 tahun lalu (1989) dan memang bertujuan untuk membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan obat dengan kualitas terjamin dan harga terjangkau. Bagaimana dengan obat branded? Biaya promosi serta biaya kemasanlah yang menjadi andil besar dalam mahalnya harga obat bermerek. Bukankah yang kita perlukan khasiatnya, bukan mereknya (apalagi bungkusnya)? Siiipp dah!
Namun, acapkali pengalaman membuktikan segalanya. Masyarakat -pun dengan saya-, saat sakit dan mencoba menggunakan obat generik, penyembuhan terasa kurang ampuh, tetapi cenderung lebih cepat sembuh jika dengan obat bermerek. Padahal, ditinjau dari komposisi obat yang dikonsumsi sama, persis sama. Disini, sugesti berperan penting. Proses penyembuhan sangat dibantu dengan sugesti positif dari si sakit. Bagaimana mungkin si sakit cepat pulih jika ia sendiri meragukan khasiat obat yang diminumnya. Sebenarnya saya juga awam soal ilmu psikologi, tapi ternyata memang berpengaruh lho!
Membangun sugesti! Sebenarnya merupakan poin penting saat sosialisai. Sosialiasi yang gencar, iklan, spanduk, edukasi yang dibungkus dengan kegiatan menarik menjadi daya tarik untuk membangun pemahaman kepada masyarakat. Pengetahuan baru –dan berharga- yang saya dapatkan tentu menuntut saya untuk lebih bijak dalam memilih obat. Dan selanjutnya, hanya tinggal ngomong ke dokter untuk diresepkan dengan obat generik berlogo, plus jangan lupa berkeyakinan bahwa si obat menjadi perantara kesembuhan. Saya sudah buktikan bermanfaatnya pengetahuan tentang OGB, sekarang giliran anda,hehe..
Satu lagi, tentang logo, saya benar, obat generik memang diberi logo khusus. Namun, justru kekhususan yang membantu masyarakat untuk mengenali, mana obat generik dan mana yang bukan. The last but not least, Seperti yang sering kita dengan, murah bukan berarti murahan kan? Buat apa bayar mahal dengan khasiat yang sama? Yuk, sukseskan program pemerintah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar