Saat jiwa sedang merana, saat hati gundah gulana, dan raga tak
mampu bertanya. Saat itulah sang emosi mulai membahana, membawa api yang terus
berkobar entah kemana, membuat diri tak bertahan lama. Satu demi satu, lembar
demi lembar yang telah tergores di kertas kehidupan. Menjadi pilu dan malu saat
mengingat setiap detik yang terlewati dengan percuma, tanpa ada satu manfaat
pun yang dituju. Tapi terkadang, hati merasa bahagia manakala mampu membuat
orang lain bangga terhadap raga ini.
Menginjakkan kaki di Universitas Negeri adalah salah satu impianku
dan mungkin impian setiap orang seusiaku kala itu. Bermula saat aku merasakan
pahitnya setiap perjuangan yang harus dihadapi untuk bisa mencoret satu lagi
mimpi dibuku "tujuan hidupku", yang berarti aku berhasil
menggapainya. Tes sana-sini mulai kuikuti. Tak terhitung berapa banyak peluh
ini terjatuh, tak terbalas betapa besar perjuangan orang tua yang selalu
menemani, tak terbayang begitu berharga semangat dan motivasi dari para teman
dan sahabat terbaikku, namun tak jarang pula keputusasaan itu hadir
menghinggapi dan mulai menggerogoti kepercayaan diri ini.
"Manisnya hidup akan terasa setelah pahitnya
berjuang" satu kalimat
dari tentorku yang masih sangat kuingat sampai detik ini. Dan saat ini, aku
begitu ingin mengenang masa lalu itu, mengingat semua orang yang sangat berjasa
dalam setiap jejak perjuanganku, mengenang orang yang selalu setia menyediakan
pundaknya disela tangisku. Terkadang aku merasa menjadi manusia yang tak berguna. Manusia yang
hanya mampu menyusahkan orang lain, manusia yang begitu mudahnya meneteskan air
mata ketika dilanda sedikit saja cobaan.
Aku mulai
perjalanan panjangku dengan mengikuti tes di sebuah akademi yang memang bukan Universitas Negeri, tapi ini
adalah sekolah yang setelah lulus langsung bekerja atau biasa disebut ikatan
dinas. Ya, selain universitas negeri, aku juga
sangat tertarik dengan sekolah yg memberikan beasiswa kepada mahasiswanya. Namun
aku harus merasakan kegagalan untuk pertama kalinya. Sakit memang, tapi aku
belum menyerah. Kuikuti pula tes-tes di tempat yang memang aku inginkan, tak
terhitung berapa banyak tes yg telah kuikuti, namun lagi-lagi aku gagal. Aku
terpuruk dalam waktu yg cukup lama. Hingga dalam keputusasaanku kupaksakan
diriku untuk mengikuti tes terakhir di sebuah kampus islami di kota Palembang. Kupilih
program study yg juga aku minati, Pendidikan Matematika. Dan saat pengumuman
tiba, betapa aku tak menyangka namaku tertera diselembar kertas yg menyatakan
lulus. Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang, itulah nama kampusku.
Semester pertama kujalani kuliahku dengan lancar. Memasuki semester kedua, perjalanan
panjangku baru akan dimulai. Aku mendapatkan informasi mengenai STKIP SURYA
dari teman akrabku, kami dengan semangat mencari tahu mengenai tes ini. Mulai
dari bertanya ke teman, internet hingga ke Dinas Pendidikan. Banyak sekali
hambatan kami untuk mendaftar tes ini, karna memang kami adalah alumni, bukan
siswa SMA yg bisa langsung mendaftar di sekolahnya. Tidak hanya sampai disitu,
pada saat tes berlangsung, kami pun harus rela tidak mengikuti perkuliahan
perdana di semester kedua itu. Hingga saat pengumuman kelulusan itu tiba,
betapa terkejutnya aku mendapati namaku tercantum LULUS disana. Sujud syukur
tak terkira kupanjatkan kepada Rabbku. Dan untuk pertama kalinya aku membuat
orang tuaku menangis bangga dengan hasil usahaku.
Menjadi seorang guru adalah cita-citaku sejak aku duduk di bangku Sekolah
Dasar. Keingintahuanku akan sosok seorang guru dan wibawa menjadi sang pendidik
merupakan salah satu motivasiku. Aku sangat ingin menjadi guru yg memiliki ilmu
ibarat buku berjalan yang selalu
memberikan kecerahan kepada setiap anak didikku. Dan di STKIP SURYA inilah
aku merasa bisa untuk mewujudkan hal itu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar