Sabtu, 27 Oktober 2012

Flashback My Life

Saat jiwa sedang merana, saat hati gundah gulana, dan raga tak mampu bertanya. Saat itulah sang emosi mulai membahana, membawa api yang terus berkobar entah kemana, membuat diri tak bertahan lama. Satu demi satu, lembar demi lembar yang telah tergores di kertas kehidupan. Menjadi pilu dan malu saat mengingat setiap detik yang terlewati dengan percuma, tanpa ada satu manfaat pun yang dituju. Tapi terkadang, hati merasa bahagia manakala mampu membuat orang lain bangga terhadap raga ini.

Menginjakkan kaki di Universitas Negeri adalah salah satu impianku dan mungkin impian setiap orang seusiaku kala itu. Bermula saat aku merasakan pahitnya setiap perjuangan yang harus dihadapi untuk bisa mencoret satu lagi mimpi dibuku "tujuan hidupku", yang berarti aku berhasil menggapainya. Tes sana-sini mulai kuikuti. Tak terhitung berapa banyak peluh ini terjatuh, tak terbalas betapa besar perjuangan orang tua yang selalu menemani, tak terbayang begitu berharga semangat dan motivasi dari para teman dan sahabat terbaikku, namun tak jarang pula keputusasaan itu hadir menghinggapi dan mulai menggerogoti kepercayaan diri ini.

"Manisnya hidup akan terasa setelah pahitnya berjuang" satu kalimat dari tentorku yang masih sangat kuingat sampai detik ini. Dan saat ini, aku begitu ingin mengenang masa lalu itu, mengingat semua orang yang sangat berjasa dalam setiap jejak perjuanganku, mengenang orang yang selalu setia menyediakan pundaknya disela tangisku. Terkadang aku merasa menjadi manusia yang tak berguna. Manusia yang hanya mampu menyusahkan orang lain, manusia yang begitu mudahnya meneteskan air mata ketika dilanda sedikit saja cobaan.

Aku mulai perjalanan panjangku dengan mengikuti tes di sebuah akademi yang memang bukan Universitas Negeri, tapi ini adalah sekolah yang setelah lulus langsung bekerja atau biasa disebut ikatan dinas. Ya, selain universitas negeri, aku juga sangat tertarik dengan sekolah yg memberikan beasiswa kepada mahasiswanya. Namun aku harus merasakan kegagalan untuk pertama kalinya. Sakit memang, tapi aku belum menyerah. Kuikuti pula tes-tes di tempat yang memang aku inginkan, tak terhitung berapa banyak tes yg telah kuikuti, namun lagi-lagi aku gagal. Aku terpuruk dalam waktu yg cukup lama. Hingga dalam keputusasaanku kupaksakan diriku untuk mengikuti tes terakhir di sebuah kampus islami di kota Palembang. Kupilih program study yg juga aku minati, Pendidikan Matematika. Dan saat pengumuman tiba, betapa aku tak menyangka namaku tertera diselembar kertas yg menyatakan lulus. Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang, itulah nama kampusku. Semester pertama kujalani kuliahku dengan lancar. Memasuki semester kedua, perjalanan panjangku baru akan dimulai. Aku mendapatkan informasi mengenai STKIP SURYA dari teman akrabku, kami dengan semangat mencari tahu mengenai tes ini. Mulai dari bertanya ke teman, internet hingga ke Dinas Pendidikan. Banyak sekali hambatan kami untuk mendaftar tes ini, karna memang kami adalah alumni, bukan siswa SMA yg bisa langsung mendaftar di sekolahnya. Tidak hanya sampai disitu, pada saat tes berlangsung, kami pun harus rela tidak mengikuti perkuliahan perdana di semester kedua itu. Hingga saat pengumuman kelulusan itu tiba, betapa terkejutnya aku mendapati namaku tercantum LULUS disana. Sujud syukur tak terkira kupanjatkan kepada Rabbku. Dan untuk pertama kalinya aku membuat orang tuaku menangis bangga dengan hasil usahaku.

Menjadi seorang guru adalah cita-citaku sejak aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Keingintahuanku akan sosok seorang guru dan wibawa menjadi sang pendidik merupakan salah satu motivasiku. Aku sangat ingin menjadi guru yg memiliki ilmu ibarat buku berjalan yang selalu memberikan kecerahan kepada setiap anak didikku. Dan di STKIP SURYA inilah aku merasa bisa untuk mewujudkan hal itu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar