LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA DASAR II
PEMBIASAN CAHAYA
|
Disusun Oleh:
IRA SILVIANA RAHMAN
11221028
Dosen Pembimbing:
Jumingin, S.Si |
FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN TADRIS MATEMATIKA
IAIN RADEN FATAH PALEMBANG
TAHUN 2012
Kata Pengantar
Dengan mempersembahkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT
yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Laporan Hasil Praktikum mengenai Pembiasan Cahaya sesuai
dengan waktu yang ditentukan. Laporan ini disusun sebagai syarat penilaian pada
mata kuliah Fisika Dasar II.
Dalam penyelesaian laporan ini, penulis banyak mengalami kesulitan,
terutama di sebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan, namun berkat bimbingan
dari berbagai pihak, akhirnya laporan ini dapat diselesaikan walaupun masih
banyak kekurangannya. Karena itu sepantasnya jika penulis mengucapkan
terimakasih kepada Bapak Jumingin, S.Si, selaku dosen pembimbing yang
telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan hingga terselesaikannya
laporan ini. Terimakasih juga tak lupa penulis ucapkan atas kerja samanya
rekan-rekan mahasiswa terutama kelompok IV, semoga kita semua kelak menjadi
mahasiswa yang sukses dan unggul nantinya serta samua pihak yang telah membantu
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari sebagai seorang
mahasiswa yang pengetahuannya belum seberapa dan masih perlu banyak belajar
dalam penulisan laporan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya
kritik dan saran yang positif agar laporan ini menjadi lebih baik dan berguna
di masa yang akan datang.
Palembang, April 2012
Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab I Pendahuluan
1.1.
Latar
Belakang ........................................................................... 1
1.2.
Tujuan
Praktikum ...................................................................... 1
Bab II Tinjauan Pustaka .............................................................................. 2
Bab III Metodologi
3.1.
Waktu
dan Tempat .................................................................... 9
3.2.
Alat
dan Fungsi .......................................................................... 9
3.3.
Prosedur
...................................................................................... 9
Bab IV Hasil dan Pembahasan
4.1.
Hasil
............................................................................................. 11
4.2.
Pembahasan
................................................................................ 12
Bab V Kesimpulan ........................................................................................ 14
Daftar Pustaka ............................................................................................... 15
Lampiran .......................................................................................................
16
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembiasan cahaya adalah
pembelokan arah rambat cahaya. Pembiasan cahaya terjadi jika cahaya merambat
dari suatu medium menembus ke medium lain yang memiliki kerapatan yang berbeda.
Misalkan dari udara ke kaca, dari air ke udara dan dari udara ke air. Pembiasan cahaya menyebabkan
kedalaman semu dan pemantulan sempurna. Sedangkan lensa adalah benda optik yang salah satu atau keduanya merupakan bidang
lengkung. Lensa merupakan peralatan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Mikroskop
menggunakan susunan lensa untuk melihat jasad-jasad renik yang tak terlihat
oleh mata telanjang. Kamera menggunakan susunan lensa agar dapat merekam obyek
dalam film. Teleskop juga memanfaatkan lensa untuk melihat bintang-bintang yang
jaraknya jutaan tahun cahaya dari bumi.
Akan tetapi tiap lensa mempunyai
jarak fokus yang berbeda, sehingga perlu melakukan penelitian untuk menentukan
jarak fokus dan titik fokus lensa tersebut. Hal inilah yang melatarbelakangi
penulis dalam melakukan praktikum mengenai “Pembiasan cahaya”.
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dilakukannya praktek mengenai
pembiasan cahaya ini adalah untuk menentukan jarak fokus lensa.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Hukum Snell
Jika seberkas cahaya
datang dan membentuk sudut terhadap permukaan (bukan hanya tegak lurus), berkas
tersebut dibelokkan pada waktu memasuki medium yang baru. Pembelokan ini
disebut pembiasan. Jika cahaya merambat dari satu medium ke medium
kedua dimana lajunya lebih besar, berkas dibelokkan menjauhi normal,
untuk berkas cahaya yang merambat dari air ke udara. Cahaya dikatakan mempunyai kecepatan yang lebih tinggi pada medium
yang lebih padat karena cahaya adalah gelombang yang
timbul akibat terusiknya plenum, substansi kontinu yang
membentuk alam semesta.
θ1 adalah sudut datang
dan θ2 adalah sudut bias, n1
dan n2 adalah indeks-indeks bias materi tersebut. Hukum
Snell merupakan dasar hukum pembiasan. Jika n2
> n1, maka θ2 < θ1 , artinya
jika cahaya memasuki medium dimana n lebih besar (dan lajunya lebih
kecil), maka berkas cahaya dibelokkan menuju normal. Dan jika n2 <
n1, maka θ2 > θ1 , sehingga
berkas dibelokkan menjauhi normal.
Pantulan Internal Sempurna
Apabila cahaya
melintas dari suatu materi ke yang lainnya dimana indeks biasnya lebih kecil,
cajaya dibelokkan menjauhi normal. Pada sudut datang tertentu, sudut bias akan
90°, dan dalam hal ini berkas bias akan berhimpitan dengan permukaan. Sudut
datang dimana hal ini terjadi disebut sudut kritis, θc. Dari hukum Snell, θc
dinyatakan dengan :
Dimana n1 > n2
|
θc
|
MEDIUM
RENGGANG (n2)
MEDIUM RAPAT (n1)
Untuk semua sudut
datang yang lebih kecil dari θc akan ada berkas bias,
walaupun sebagian cahaya juga akan dipantulkan pada perbatasan. Pantulan
internal sempurna hanya terjadi jika cahaya menimpa batas dimana medium
sesudahnya memiliki indeks bias yang lebih kecil.
Lensa Tipis
Sumbu lensa
merupakan garis lurus yang melewati pusat lensa dan tegak lurus terhadap kedua
permukaannya.
a.
Lensa-lensa Konvergen
Lensa yang lebih tebal di tengah daripada ditepinya akan membuat
berkas-berkas paralel berkumpul ke satu titik, dan disebut lensa
konvergen.
Cembung ganda
Cembung datar Meniskus cembung
(a)
(b)
Gambar 1. (a) (b) Berkas-berkas paralel difokuskan oleh lensa tipis konvergen
b.
Lensa-lensa Divergen
Lensa yang lebih tipis di tengah daripada di sisinya disebut lensa
divergen karena membuat cahaya paralel menyebar.
Cekung ganda Cekung datar Meniskus cekung
Gambar
2. Lensa divergen
Titik fokus merupakan titik bayangan untuk
benda pada jarak tak hingga pada sumbu utama. Titik fokus lensa bisa ditemukan
dengan menentukan titik dimana berkas-berkas cahaya dibentuk menjadi bayangan
yang tajam. Jarak titik fokus dari pusat lensa disebut jarak
fokus f . Kebalikan dari panjang fokusuntuk
menentukan kekuatan lensa kacamata (kontak) disebut kuat lensa, P,
Kekuatan Lensa
satuan untuk kekuatan
lensa adalah dioptri (D)
Gambar
3. Tiga sinar utama pada lensa cembung. (1)
berasal dari puncak benda paralel dengan sumbu utama, kemudian dibiaskan
melalui titik fokus. (2) paralel dengan sumbu utama di luar lensa. (3) lurus
melalui pusat lensa (dianggap sangat tipis).
Persamaan Lensa
Persamaan yang menghubungkan jarak bayangan
dengan jarak benda dan panjang fokus lensa akan membuat penentuan posisi
bayangan lebih cepat dan lebih akurat dibandingkan dengan penelusuran berkas,
untuk lensa konvergen (dianggap sangat tipis), sehingga
Karena panjang AB = ho, dengan
demikian
Kita samakan ruas kanan persamaan-persamaan
ini, bagi dengan di, dan susun kembali untuk mendapatkan
Persamaan Lensa
Ini disebut persamaan lensa. Persamaan ini
menghubungkan jarak bayangan di dengan jarak benda do dan
panjang fokus f .
Gambar
4. Penurunan persamaan lensa untuk lensa
konvergen
Persamaan lensa untuk
lensa divergen adalah sama, berarti
Jika kedua persamaan
ini disamakan dan disederhanakan, maka didapatkan
Gambar 5. Penurunan
persamaan lensa untuk lensa divergen
Perbesaran lateral, m,
sebuah lensa didefinisikan sebagai perbandingan tinggi bayangan dengan tinggi
benda, maka didapatkan
Perbesaran lateral
lensa
Untuk bayangan tegak,
perbesaran positif. Dan untuk bayangan terbalik, m bernilai negatif.
BAB
III
METODOLOGI
3.1.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada
Hari : Selasa
Tanggal : 10 April 2012
Tempat : Laboratorium MIPA IAIN
Raden Fatah Palembang
Pukul : 08.00 – 10.00 WIB
3.2.
Alat dan Fungsi
a.
Diafragma, berfungsi untuk mencegah over
exposure pada saat memotret benda dekat (macro).
b.
Lensa, berfungsi untuk memfokuskan cahaya
dan untuk melihat bayangan yang telah dibiaskan oleh lensa.
c.
Rel presisi, berfungsi untuk meletakkan
benda dan lensa serta untuk menentukan jarak benda dan jarak bayangan dengan
lensa.
d.
Catu daya, berfungsi sebagai pengontrol
kestabilan tegangan output dengan merubah-rubah lebar pulsa untuk menyaklarkan
transistor penyaklar.
3.3.
Prosedur
1.
Susun rangkaian seperti gambar berikut :
sumber diafragma lensa tabir/layar
rel presisi
s s’
2.
Gunakan lensa +50 mm.
f = +50 mm = 5
cm
M = 2f
Ruang benda Jarak Fokus (f )
Ruang I : 0 – f 0 – 5
Ruang II : f - M 5 – 10
Ruang III : > M > 10
Ruang IV : Benda Maya
3.
Berikan tegangan masukan 12 volt.
4.
Tetapkan S dan ukur S’ ,
masukkan dalam tabel.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
a.
Hasil
Dalam praktikum kali ini terdapat 3 jenis lensa yang digunakan, yaitu 5
cm, 10 cm, dan 20 cm. Ruang benda yang dipakai adalah Ruang II dan Ruang III,
hal ini dikarenakan jika benda berada di ruang II maka bayangan berada di ruang
III, sehingga
Rbayangan > Rbenda → diperbesar
Untuk mencari nilai f , maka digunakan rumus :
a.a. Untuk f
= 5 cm,
maka M = 2f = 10 cm
|
No.
|
S
|
S’
|
S + S’
|
S x S’
|
f
|
|
1.
|
6
|
29
|
35
|
174
|
4,9
|
|
2.
|
8
|
18
|
26
|
144
|
5,5
|
|
3.
|
10
|
12
|
22
|
120
|
5,4
|
|
4.
|
12
|
10
|
22
|
120
|
5,4
|
|
5.
|
14
|
9
|
23
|
126
|
5,4
|
|
∑ f
|
26,6
|
||||
