Jika mendengar
istilah Obat Generik Berlogo (OGB), apa yang terlintas di pikiran anda? Obat
murah kah? Obat obat yang
diperuntukkan untuk segolongan masyarakat tertentu kah? Atau obat berkualitas? Pertama mendengarnya, saya menganggap
obat generik adalah obat murah dan kurang berkualitas. Di tambah dengan adanya
logo yang menguatkan bahwa obat generik memang khusus, meski belum mengetahui
dikhususkan dalam hal apa, tetapi melihat harganya, pemikiran awam saya (dan
mungkin juga sebagian besar orang Indonesia) cenderung merujuk bahwa obat
generik berlogo dikhususkan untuk masyarakat menengah kebawah. Sedangkan obat
bermerek (branded) yang notabene
berkali lipat jauh lebih mahal, lebih memegang mutu, tentu karena obat tersebut
sudah diiklankan di televisi dengan icon artis-artis ternama. Ya, iklan memang
kerapkali menjadi patokan bermutu atau tidaknya suatu produk. Spekulasi keliru.
Beberapa
kali saya pernah melihat spanduk anjuran pemakaian OGB di jalan-jalan, atau
iklan di televisi (meskipun sekarang sudah tidak pernah lagi), tetapi entah
mengapa ketika sakit dan berobat, saya menyerahkan sepenuhnya pemilihan obat
kepada dokter. Menurut saya, dokter tentu lebih mengetahui obat mana yang lebih
cepat menyembuhkan, tanpa peduli obat generik atau tidak. Ini nih yang buat
rendahnya penggunaan OGB di negara kita.
Faktanya
kemudian, pemikiran saya salah besar! Sosialisasi yang diadakan oleh salah satu
perusahaan farmasi nasional terbesar di Indonesia mematahkan anggapan tersebut.
Obat generik berlogo mempunyai kualitas dan khasiat yang sama dengan obat
bermerek sejenis. Ya, SAMA. Bagaimana bisa? Obat generik tentu tidak akan
pernah beredar luas jika cara pembuatannya tidak sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan, yaitu CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), bersertifikat
internasional, serta diawasi langsung oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan
Makanan). Selain itu, OGB juga telah lulus serangkaian tes, mulai dari bahan
baku sampai produk jadi, baik dari segi mutu sampai keamanan. Mantap gak tuh!
Melalui
print-out yang dibagikan saat
sosialisasi juga, saya tahu bahwa obat generik merupakan program pemerintah yang
digalakkan sejak 14 tahun lalu (1989) dan memang bertujuan untuk membantu
masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan obat dengan kualitas terjamin dan harga
terjangkau. Bagaimana dengan obat branded?
Biaya promosi serta biaya kemasanlah yang menjadi andil besar dalam mahalnya
harga obat bermerek. Bukankah yang kita perlukan khasiatnya, bukan mereknya
(apalagi bungkusnya)? Siiipp dah!
Namun,
acapkali pengalaman membuktikan segalanya. Masyarakat -pun dengan saya-, saat
sakit dan mencoba menggunakan obat generik, penyembuhan terasa kurang ampuh, tetapi
cenderung lebih cepat sembuh jika dengan obat bermerek. Padahal, ditinjau dari
komposisi obat yang dikonsumsi sama, persis sama. Disini, sugesti berperan
penting. Proses penyembuhan sangat dibantu dengan sugesti positif dari si
sakit. Bagaimana mungkin si sakit cepat pulih jika ia sendiri meragukan khasiat
obat yang diminumnya. Sebenarnya saya juga awam soal ilmu psikologi, tapi
ternyata memang berpengaruh lho!
Membangun
sugesti! Sebenarnya merupakan poin penting saat sosialisai. Sosialiasi yang
gencar, iklan, spanduk, edukasi yang dibungkus dengan kegiatan menarik menjadi
daya tarik untuk membangun pemahaman kepada masyarakat. Pengetahuan baru –dan
berharga- yang saya dapatkan tentu menuntut saya untuk lebih bijak dalam
memilih obat. Dan selanjutnya, hanya
tinggal ngomong ke dokter untuk
diresepkan dengan obat generik berlogo, plus jangan lupa berkeyakinan bahwa si
obat menjadi perantara kesembuhan. Saya sudah buktikan bermanfaatnya pengetahuan
tentang OGB, sekarang giliran anda,hehe..
Satu
lagi, tentang logo, saya benar, obat generik memang diberi logo khusus. Namun,
justru kekhususan yang membantu masyarakat untuk mengenali, mana obat generik
dan mana yang bukan. The last but not
least, Seperti yang sering kita dengan, murah bukan berarti murahan kan?
Buat apa bayar mahal dengan khasiat yang sama? Yuk, sukseskan program
pemerintah!